Postingan

Lapangan PSTS Tabing dan Gorengan Umi

Gambar
Lapangan PSTS Tabing dengan latar belakang SMP 13 Padang. (ist) Lapangan PSTS Tabing, begitu nama lapangan sepak bola yang terletak di depan SMP 13 Padang di Jalan Hamka, Tabing, Padang, Sumatera Barat itu. Sejak aku lahir hingga kini, tetap itu nama lapangannya, tidak berubah, meski kadang lebih sering disebut lapangan bola saja. Beberapa hari terakhir, lapangan ini sedang ramai-ramainya. Betapa tidak, sekarang lapangan sedang dipakai untuk pertandingan sepak bola dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Aku memang belum ke sana, sejak pertandingan dimulai, tapi selalu ada yang menyampaikan, lapangan penuh sesak. Banyak penonton yang menyaksikan jalannya pertandingan. Aghhh, kalau begini, jiwa dagangku langsung bergejolak. Ingin rasanya, ikut pula berjualan di sana. Pikiranku jadi melayang ke masa berpuluh tahun lalu, saat keluarga kami mengontrak rumah di sekitar lapangan bola. Saat itu, kalau di lapangan ada keramaian, aku dan kakakku serta Abak dan Adikku nomor tiga selalu berjuala...

Raynul Mihiko Kapten Satu-satunya Kapal Asing di Laut Padang

Gambar
Raynul Mihiko di atas Kapal Ohana Pagi itu, Sungai Pisang tampak begitu tenang, setenang air di teluknya yang bersih, tak berombak. Di sana, sebuah kapal mewah berwarna putih berdiri kokoh menghadap laut.  Di atas kapal tersebut, seorang laki-laki muda duduk manis di belakang kemudi. Sepertinya dia sedang bersiap mengarungi laut lepas di hadapannya.  “Kami mau berlayar ke Pulau Pasumpahan, tidak jauh dari sini, karena ini hanya buat memanaskan mesin kapal,” kata sang lelaki yang tidak lain kapten kapal bermerek Ohana itu.  Terdengar suara mesin begitu halus dan kapal pun berjalan pelan. Semakin lama semakin ke tengah laut. Sang lelaki  yang diketahui bernama Raynul Mihiko, tampak tenang mengendalikan laju kapal.  Sudah beberapa bulan ini, dia dipercaya sang pemilik,  Breet Kannel, seorang pengusaha asal Perth, Australia Barat mengendalikan kapal itu. Bukan sekadar juru mudi atau nakhoda kapal saja, melainkan mengendalikan semua isi kapal me...

Di SDN 23 Tua Peijat : Satu Ruang, Dua Kelas

Gambar
Satu ruangan yang jadi dua kelas. (ist) Tua Peijat-  Hari itu Rabu (1/10), udara Tua Peijat, ibukota Kepulauan Mentawai yang panas tiba-tiba berubah mendung diiringi hujan deras. Di SD 23 Tua Peijat, anak-anak yang sudah istirahat kembali ke kelasnya masing-masing. Ditengah curahan hujan yang berbunyi keras di atap sekolah, sayup terdengar dua suara dari kelas paling ujung SD yang terletak di kilometer 10. Suara itu bukanlah suara orang sedang bercakap-cakap, melainkan suara guru mengajar. "Baik anak-anak, silahkan buka buku kalian. Hari ini, Bapak akan memberikan pelajaran tentang bilangan prima,” ujar salah satu dari dua suara tadi dengan lantang. “Kalian tahu apa itu bilangan prima? Bilangan prima adalah bilangan yang bisa dibagi dengan bilangan satu dan bilangan itu sendiri,” sambungnya lagi. Sementara, suara satu lagi lebih halus dan bersahaja. “Bagaimana anak-anak, sudah dipelajari soal-soal di dalam LKS bahasa Indonesia yang Ibu berikan waktu itu,” ujar su...

KOTA PADANGKU TERCINTA

Gambar
Bus kota dan Trans Padang. (Net) Hari ini, Kamis, 7 Agustus 2014, tepat 345 tahun usia Kota Padang, ibukota Sumatera Barat, tempatku lahir dan dibesarkan. Angkanya cantik, tapi nasibnya mungkin tidak secantik angka peringatan kelahirannya tahun ini. Mengapa? Lihatlah kota ini sejak beberapa tahun terakhir. Semberaut! Terutama di Pasar Raya Padang. Jalanan di dalam pasar, penuh sesak oleh pedagang yang berjualan. Mereka tidak sungkan untuk merangsek ke badan jalan. Sudah barang tentu, kendaraan jadi sulit melintas. Jangankan kendaraan roda empat, sepeda motor saja harus ‘merangkak’ untuk bisa menembus padatnya jalan. Banyak warga kota yang mengaku jadi enggan ke pasar yang dulu sangat terkenal itu. Mereka lebih memilih berbelanja ke mall atau swalayan yang kini memang mulai menjamur di kota ini. Itu baru satu persoalan. Masalah lainnya adalah payung ceper dan pondok ceper di pinggir Pantai Padang yang meresahkan banyak pihak. Wisata keluarga yang dulu digadang-gadang bakal...

Berdinas di Idul Fitri, Adi Nasjaya Tetap Enjoy

Gambar
Gelap masih menyungkup bumi, saat Adi Nasjaya, petugas pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) sampai di kantornya. Pagi itu, Senin (28/7), persis di Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah, dia bersama beberapa rekannya tetap bertugas memandu pesawat udara yang datang dan berangkat dari bandara itu.  "Dinas pagi dari jam 07.00 WIB hingga 13.00 WIB. Tapi sesuai SOP (standar operasional prosedur), kami sudah harus di kantor paling lambat 06.30 WIB," sebut pria yang sudah melakoni profesi itu sejak 15,5 tahun lalu.  Supaya tidak terlambat, dia berangkat lebih pagi dari rumahnya.  Biasanya dia bangun sebelum suara azan subuh memanggil. Di hari kemenangan tersebut, dia malah bangun pukul 04.00 WIB.  
Gambar
Mie goreng (yuni) Mie Goreng. Siapa yang tidak tahu makanan ini. Hampir semua orang menyukainya. Anak-anak kecil saja sudah menyukai makanan yang satu ini. Di Sumatera Barat, mie goreng menjadi salah satu makanan yang memang difavoritkan masyarakat. Mienya bisa mie berwarna kuning seperti dalam gambar di atas atau pun mie telur, seperti mie pada mie instant yang banyak dijual di warung. Membuat makanan ini pun tergolong mudah. Jadi yang malas jajan di luar, bisa membuatnya sendiri. (*)

Mangkuak Ubi Ungu

Gambar
Kue mangkok atau di Ranah Minang disebut mangkuak, termasuk salah satu makanan tradisional yang dulu sangat diminati. Kini, seiring perkembangan zaman, makanan itu mulai agak dilupakan, jika tidak bisa disebut hilang dari peredaran kuliner di negeri Ranah Bundo Kanduang ini.  Namun, sebuah tangan trampil berhasil mengolah ubi jalar ungu menjadi mangkuak berwarna ungu. Sungguh menarik. Tidak saja dari warna yang ditampilkannya, tapi juga memberikan rasa yang agak berbeda bila dibandingkan mangkuak pada umumnya.  Tapi jangan khawatir, karena justru semakin enak dan menggugah selera dengan warnanya yang memikat. Gimana? Tertarik mencoba?